Blog

  • Dom 65 Dalam Format Vinyl

    Dom 65 Dalam Format Vinyl

    Album Punk Rock Indonesia yg berbeda @dom65band Greatest Pledges Articles. Dengan berani memadukan Street Punk/Oi dengan NWBOHM. Dirilis pertama kali tahun 2005 oleh Ruckson Music. Di reissue oleh @nirmanarecs dalam format dobel PH tahun 2017. Imam Senoaji bersuara parau, marah, dengan sikap bodoamat. Bersama Adnan D Kusuma dia menulis hampir semua lagu di album ini. Sesa Slaughter menyumbang warna Heavy Metal Classic di album ini. Mendengar gebukan Erwin Gusur membuat kita ingin terjun larut di pusaran merekaKualitas sound paten. Keras seperti kehidupan yg ditulis dalam lirik-lriknya. Bangun Getun berhasil memindahkan keliaran Dom 65 kedalam rekaman ini. Sempatkan diri untuk saksikan pentas mereka. Power!

  • bersepeda melintasi mural

    bersepeda melintasi mural

    Pagi tadi kembali gue bersepeda melintasi BSD. Sepertinya gak akan pernah selesai eksporasi kawasan ini. Yang serunya gue bersepeda bersama keponakan gue, Khansa Nayotama, yang total anak Tanxel (besar di Tangerang Selatan). Dia mengarahan gue memotong jalan jalan ke perumahan Nusa Loka. Awalnya gue keberatan. Karena bersepeda di BSD yang menarik adalah jalanan utamanya. Itulah sensasi melibas roadbike. Jalan utama. Mainstream! hehehe

    Tapi ketika kami melintasi kolong jembatan Tol di jalan Ambon akhirnya gue menyetujui keputusan ini. Waaah mural ukuran besar di lokasi yang tepat memang tak pernah mengecewakan! Walaupun bukan mural dengan teknis melukis tingkat tinggi. Tapi komposisi warna dan gambarnya sangat pas. Sukses membuat kolong jembatan jl Ambon jadi manis. Warnanyapun masih cling. Dan masih terbebas dari coretan asal bocah-bocah Sekolah Menengah Atas dengan cat semprotnya.

    Melihat warnanya yang masih sempurna. Ternyata mural ini di buat bulan Oktober 2017 dalam rangka Festival Nusa Loka, oleh Desa Rupa (FSRD Trisakti). Digarap oleh 9 orang dan sukses menjadi mural yang paling menonjol dibanding peserta yang lain. Akhirnya karena mural ini, memotong jalan di jl Ambon, Nusa loka, menjadi menu pembuka jika bersepeda di BSD. Melintas dengan sepeda dibawah kolong jalan tol ini sungguh menyenangkan.

  • akhirnya gue sah jadi anak Tanxel

    akhirnya gue sah jadi anak Tanxel

    Untuk pertama kalinya gue bersepeda keliling Tangsel. Mulai dari Pamulang, tembus ke BSD, lewat Alam Sutra, lalu ke Bintaro lalu kembali ke Pamulang.
    46,8 Km dalam waktu tempuh 2jam 26menit.

    img_0336

    Secara pengalaman pertama. Konsentrasi gue masih terpaku pada kecepatan, waktu dan jarak tempuh. Maklum gue berangkat jam 7:30 dan harus sampe rumah lagi jam 11. Biasa jemput bestfriend, Pijar.

    img_0342

    Kalau gue gambarkan, sepedahan pagi ini suasananya seperti album Rush, 2112. Berubah turun naik. Dari Pamulang yang raw, masuk BSD yang mapan. Lalu berubah jadi BSD pinggiran. Belok ke kanan. Masuk Alam Sutra yang adem tentrem. Bike Lanenya pun di beri warna hijau. Tiba-tiba masuk Bintaro. Sampai disini kita seperti termotivasi untuk kerja keras dan pindah kesini. Dan akhirnya….kembali kehingar bingarnya Pamulang. Sungguh perjalanan yang sangat Progressive Rock!

    img_0349

    Kalo dilihat dari perhitungan waktunya, jarak ini bisa dirutinkan. Sambil menikmati suasana jalanannya. Pasti lebih menarik. Dan bakal banyak hal yang bisa gue serap. Wah harus diulang dengan rute terbalik nih. Tulisan ini pasti ada episode keduanya. Yang pasti gue merasa sudah ‘sah” jadi anak Tanxel. Viva Tanxel Rose. Yawzaah!!!

  • Playlist Pijar Cakrawala

    Playlist Pijar Cakrawala

    Anak gue mulai suka denger musik sendiri. Sebagai anak zaman sekarang Pijar mulai bisa membuat playlist di Spotify. Dan memilih lagu-lagu yang dia suka. Sebagai seorang bokap yang demokratis gue juga membebaskan Pijar untuk memutar lagu kesukaannya. Tapi badan sensor Bokap Paranoid terkadang aktif juga he he. Kalau gue perhatikan lagu yang disuka Pijar bertempo riang. Ada pula beberapa lagu bertempo pelan yang dia suka karena ada kejadian-kejadian khusus yang membuat dia tertarik. Sebagian besar dari seleksi lagu Pijar, di dengar dari soundtrack film. Ada juga dari playlist gue. Kadang dari backsound postingan Godzilla dari youtuber manca negara.

    Oke inilah beberapa lagu yang sering di putar Pijar akhir-akhir ini. Secara warna musik sangat campur aduk ha ha

    1. Matisyahu / Live Like A Warrior

    Lagu ini didengar pertama kali ketika Pijar mencari potongan film-film animasi Dinosaurus di Youtube. Hey ternyata lagu ini adalah soundtrack Walk With Dinosaurs. Salah satu film favorit Pijar ketika berusia 4 tahun. Ketika kami memutar ulang film ini dan tiba di scene terakhir kamipun bersorak (agak) histeris. Lagu ini berkumandang di secene yang paling membahagiakan. Secara lirik lagu ini juga positif. Walau gue cukup janggal dengan soundnya. Tapi biarlah, lucu juga liat Pijar singalong mengikuti lagu ini haha.

    2. The Caesars / Jerk It Out

    Suatu hari gue lihat Pijar didepan youtube menyaksikan video Buck (Ice Age 3) dengan backsound lagu ini. Postingan acak dari youtuber entah siapa. Sepertinya dia suka dengan suasana lagu ini. Ketukan drums dan intronya yang catchy. Tapi Pijar nggak berusaha untuk menghafal dan menyanyikan lagu ini. Fhiuuh syukurlah. Ada dualisme arti lirik lagu ini. Andaikata Pijar menyanyakan temanya, pasti gue akan menceritakan dari segi positifnya saja 🙂

    3. AC /DC – Thunderstruck

    Gile AC/DC! Ada masa dimana Pijar gemar memutar film Planes 2. Nah Thunderstruck adalah salah satu soundtracknya. Ketika dia meminta diputarkan klipnya, gue sih oke-oke saja. Penuh orang headbang! Lalu Pijar melihat kolom up next disebelah kanan. Lanjut ke You Shook Me All Night Long (mulai deg-degan gue), lalu lanjut ke Rock N Roll Damnation. Cuma satu pertanyaan Pijar. Pa, Rock Roll Damnation artinya apa sih? Artinya, Rock N Roll itu keren hahaha

    4. Three Days Grace / I’am Machine

    Ahhhhh band apa pula ini. Personilnya seperti anggota tetap body building. Dengan sound heavy yang modern. Lagu berirama rock dengan intonasi pop tapi sedikit growl. Nu Metal mainstreamlah tepatnya. Sama sekali bertentangan dengan selera gue. Gara-agara ada youtuber yg mengunggah video Mecha Godzilla dengan backsound lagu ini, akhirnya Pijar jadi keranjingan Three Days Grace. Tapi ini jauh lebih mendingan sih. Ada satu lagi band favorit dia karena video postingan Godzilla. Skillet! Bah itu nggak banget. Vokalisnya menarik rambut normalnya agar terlihat mohican. Totally poser! Untuk yang satu ini gue selalu berkilah agar Pijar tidak memasukkan lagunya di Playlist. Ampuuun.

    5. Lukas Graham / 7 Years

    Gue pernah lihat video si Lukas di kamar hotel ketika The Upstairs manggung di Palembang (kalo gak salah). Lalu gue lihat Pijar mendapatkan lagu ini dari postingan Youtube, Son Of Godzilla. Lagu ini sampai di hafalin sebagian oleh Pijar. Kalo yang ini amanlah masih. Yaaah sempet jadi pengantar tidur juga. Tapi ini lebih baik menurut gue. Pijar pernah minta ditemani tidur dengan theme song Godzilla pertama (1955). Dia sih cepat sekali tertidus pulas. Tapi untuk gue yang masih terjaga, mendengar orchestra ini di repeat berulang-ulang….cukup meremang juga bulu kuduk gue. Hiiiiy.

    6. The Raveonettes / Bang!

    Kalo ini 100% pengaruh gue haha. Bersama The Jesus And Mary Chain, Raveonettes termasuk band Alternative yang sering gue putar albumnya. Sepertinya lagu ini yang paling mudah dinyanyikan oleh Pijar. Pernah suatu hari dalam perjalanan liburan dari Jogja ke Gunung Kidul, Pijar memutar lagu Bang! berulang-ulang. Dari perjalanan pergi ke Gunung Kidul hingga balik lagi ke Jogja. Supir mobil sewaan kami sampai bisa mnenyanyikan lagu ini sesampainya di Jogja hahahaha.

    7. George Thorogood / Bad To The Bone

    Lagi-lagi dari postingan video Godzilla di Youtube, membuat lagu ini mampir ke playlist Pijar. Gile, gue gak pernah denger lagu George Thorogood seumur hidup gue. Pijar yang memperkenalkannya. Keren. Dulu zaman Thrash Metal 90an gue sering lihat kaset doi nangkring di Grand Audio Blok M. Boro-boro gue pegang. Lewat aja dia sekilas. Karena ketika melihat gayanya di cover kaset, mengingatkan gue akan Bruce Springsteen. Kaos hitam lengan kutung, Fender Telecaster coklat muda. Ah gak menarik. Hahaha. Tapi sejak mendengarkan lagu ini, Pijar jadi mengenal Blues. Beneran. Kalo gue ajak makan di luar dan lagu yang di putar ada terdengar gitar slide dan bending menyayat, Pijar pasti nyeletuk. Ini Blues ya Pa? Hah?? Kaget gue. Akhirnya sampe rumah gue setel The Rolling Stones, Spider To Fly. Lalu gue tanya, ini musiknya apa Pijar? Dengan cuek sambil memainkan Lego dia menjawab: BLUES! Luar biasa.

    8. Owl City / Fireflies

    Arrrrgghhhhhh tidaaaaak. Lagi-lagi ulah youtuber yang mengunggah video Godzilla dengan back sound Owl City. Pijar ketahuilah Owl City mencontek Postal Service habis-habisan. lalu gue putarkan Such A Great Heights, ah dia gak suka hahaha. Jangan lihat fashionnya Pijar. Musisi yang pake V Neck dan vest gak dikancing itu sesungguhnya sangat bad bad fashion. Ampuuuuun

    9. Jerry Lee Lewis / Great Balls Of Fire

    Kamu memang best friend papa, Pijar. Kereeeen. Kereeeen mmuah mmuah mmmuah. Awalnya Pijar secara acak mengklik sebuah acara Talent Show, The Voice versi Jerman. Ada seorang contestant muda bernama Tilman menyanyikan lagu ini dengan keren. Akhirnya sebagai seorang bapak yang baik gue bukakan video versi aslinya. Gue lihat wajah Pijar sumringah lalu kita joget off beat berdua….yeaaahaaaa

    10. The Runaways / Cherry Bomb

    Ampuuun. Belum saatnya nih. Ternyata ketika gue puter album The Runaways, Pijar menyerap satu lagu ini. Dia suka gitar heavy vintagenya ternyata. Pa, lihat video klipnya dong. Wuaduuuuh. Gimana yaaa…
    Akhirnya gue tetep memtutarkan video ini, sambil mengalihkan ke topik lain yang membuat dia tertarik. ahhh berhasil.

    11. Nikka Costa / Tomorrow

    Waaah ini lagu pengiring dia tidur yang efektif selain Ambilkan Bulan, ketika masih bayi hingga 3 tahun. Gue kerap menyayikan lagu ini sambil menggendong Pijar. Tentunya dengan tone gue. Yaaah seperti Tomorrow dinyanyikan Tom Waits lah hahaha. Usia 4 tahun mulai jaim doi. Malah lebih sering minta di ceritakan dongeng-dongeng bertema absurd hahaha. Tiba-tiba diusia 6 tahun, Pijar menemukan kembali lagi. kali ini gak minta gue nyanyikan. Tapi setelah berdoa dia menyetel lagu ini dengan volume kecil hingga tertidur. Aaaaah….

    12. Rumahsakit / Kuning

    Kuning adalah lagu favorit abadi buat Pijar. Awalnya dari mendengar gue mengulang-ulang lagu ini dengan gitar akustik di rumah. Saat itu Morfem memutuskan mengcover lagu ini. Alhasil Pijar sering menyenandungkan lagu ini. Sering gue liat Pijar menyanyikan lagu Kuning sambil memainkan gitar kecilnya asal-asalan. Bahkan setiap ketemu mic di acara keluarga, Pijar akan maju dan menyanyikan lagu Kuning. Keluarga gue terbengong-bengong. Lagu siapa ini Jim? Rumahsakit. Hah siapa mereka? He he he.

    Yah itulah lagu yang didengarkan anak gue saat ini. Lagu anak-anak yang sempat jadi favorit dia hanya album Tasha ketika berusia 2-3 tahun. Dari pengalaman ini akhirnya gue semakin sadar kalo kita sangat-sangat mebutuhkan lagu anak-anak yang digarap asik. Hmmmmmm….

     

  • Sajama Cut – Sang Antitesis Indie Rock

    Sajama Cut – Sang Antitesis Indie Rock

    Thursday Noise Vol 11

    Akhirnya kami berhasil mengundang Sajama Cut untuk main di Thursday Noise. Berkali-kali mencoba mengundang mereka, tetapi selalu tidak pernah bersambut jadwal. Saat ini bertepatan dengan dirilis ulangnya dua album awal mereka (Apologia dan The Osaka Journals) akhirnya Sajama Cut berhasil kita bawa ke Thursday Noise Vol 11. 6 April 2017 di Lost & Found Kemang.

    Sajama Cut adalah band yang unik. Mereka memulai debutnya sebagai band yang total berbahasa Indonesia di album Apoligia (2001). Lalu di rilisan berikutnya mereka justru mengurangi bahasa Indonesia hingga satu judul. Bahkan di album terakhirnya Hobgoblin (2015) mereka benar-benar meninggalkan bahasa Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dari kebiasaan band Indonesia lain. Marcel sebagai penulis lagu memperlakukan bahasa selayaknya instrumen dan eleman artistik. Dia akan pasang cabut sekena hati dan seleranya.

    Sajama Juga termasuk band yang selalu memiliki kejutan di setiap rilisannya. Mereka hadir sebagai band bernuansa Industrial di tahun 2001. Menurut Marcel saat itu dia sedang nonstop mendengarkan Norwegian Black Metal. Lirik lagu di album inipun terdengar gelap. Marcel menyebut album perdana mereka adalah terjemahan Black Metal versi Sajama Cut.

    Di album kedua The Osaka Journals (2015), Sajama merubah musiknya 180 derajat menjadi Indie Rock. Suara khas Marcel tee mulai terdengar di album ini. Musiknya melembut. Namun liriknya semakin dalam. Dari album ini musik Sajama Cut mulai diterima luas. Tapi jangan harap Sajama Cut akan mengulang kesuksesan racikan album ini di album berikutnya. Setiap ada rilisan baru Sajama, pasti berisi refleksi antitesis dari album sebelumnya. Begitu menurut penuturan Marcel Tee.

    Yang menarik selama persiapan Thursday Noise Vol 11, Sajama Cut mengajukan beberpa perangkat visual untuk mendukung penampilan mereka. Nampak mereka mempersiapkan penampilan khusus untuk tanggal Thursday Noise nanti. Marcel Pun sempat membocorkan setlisnya pada kami. Penuh hits yang akan memancing koor di Thursday Noise. Dan yang pasti ada dua lagu dari Apologia yang akan di bawakan. Salah satunya Pecah/Belah. Lagu yang belum pernah mereka bawakan sama sekali di atas panggung.

  • Morfem – Roman Underground

    Morfem – Roman Underground

    Thursday Noise Vol 11

    Morfem merilis album Dramaturgi Underground pada bulan November 2016 silam. Perhelatan Thursday Noise kali ini digunakan Morfem untuk merilis single kedua mereka berjudul Roman Underground. Sebuah lagu bertempo sedang yang di gubah musiknya oleh Pandu Fuzztoni. Lirik dan lagu ditulis Jimi Multhazam. Pada malam Thursday Noise Vol 11, Morfem juga akan menggarap video di sana secara bergerilya. Morfem mengundang penggemarnya untuk datang dan tampil habis-habisan. Karena team videographer Morfem akan mengcapture kejadian-kejadian terbaik disana secara diam-diam.

  • Barefood Makin Cling!

    Barefood Makin Cling!

    Thursday Noise Vol 11

    Gile! Berita tentang rilisnya album Barefood, Milkbox ramai sekali di jejaringan sosial. Penasaran sekali gue dibuatnya. Secara gue tertarik mengikuti band ini sejak Pandu Fuzztoni memutarkan demonya ke gue 2010 silam. Hingga Sullen EP di rilis. Mereka menciptakan lagu yang mudah dicerna. Riff-riff manis distortif. Dan lirik yang cukup sentimentil. Formula yang pas untuk jadi idola. Gue harus punya Milkbox. Harus.

    Tepat di hari musik Nasional 2017, akhirnya gue berhasil membeli album Milkbox dan memutarnya di mini hifi rumah. Kesan pertama album ini terdengar lebih cling (bright) dari Sullen. Puter dua kali. Lalu album ini gue simpan. Mungkin kuping gue belum terbiasa. Lalu pindah ke rilisan lain. Tapi hal menarik dari Milkbox adalah lagu Hitam dan Biru. Barefood mulai berbahasa Indonesia. Berita banget ini .

    Seminggu kemudian gue buka lagi cd Milkbox. Gue mulai terbiasa dengan sound Barefood sekarang yang cling ini. Tetep lagu Hitam yang pertama gue putar. Barefood mulai mencoba lirik Indonesia. Dan menurut gue sukses. Musik, lirik ditulis dan dinyanyikan Dito. Ada hal berbeda dari penulisan lirik berbahasa Indonesia mereka. Di lagu berbahasa Indonesia Barefood menyampaikan tema secara tersirat. Namun di lirik berbahasa Inggris, mereka lebih lugas. Bisa di mengerti. Bayangkan jika Barefood menulis bait Amelie dalam bahasa Indonesia.
    “Amelie no matter what you’ll be. I’ll be by your side. Our love is fun. I hope it will long last like tattoo on your arms. It’s allright honey. You belong to me….”
    Hehhe pasti janggal deh tuh. Dibutuhkan keberanian extra untuk menulis tema selugas ini dalam bahasa indonesia.

    Lagu kedua yang sering gue putar adalah Biru. Lagu ini ditulis Dito dan dinyanyikan Mamad. Lagu ini di letakkan di track terakhir. Polos tak berdistorsi. Peletakan yang pas. Liriknya nelangsa. Apalagi ketika masuk terumpet keyboards di bagian akhirnya. Wuiiih di remas-remas hati kita dibuatnya.

    Milkbox, Grown Up dan Scars adalah lagu favorit lain di Milkbox. Kalo elo belum bisa move on dari album Sullen, bisa memulai dari tiga lagu ini. Amelie lagu paling sentimentil di Milkbox. Dan candy adalah lagu yang membuat gue bisa paham jadi remaja di tahun 2017.

    Jika kita putar berulan-ulang album Milkbox kita, akan mendengarkan dua warna yang berbeda. Milkbox, Grown Up, Scars dan Amelie di tulis Mamad. Candy, Hitam, Sugar dan Biru di tulis Dito. Sedangkan Soda mereka garap bersama. Uniknya ketiga rilisan Barefood yang pernah gue denger (Demo 2010, Sullen, Milkbox) semuanya di rekam di studio yang sama. Engineer yang sama. Tapi semuanya berkembang makin lebar dan cling. Gue yakin album Milkbox akan makin luas terdengar.

    Dengan dirilisnya Milkbox akhirnya gue memutuskan Barefood untuk tampil untuk yang ketiga kalinya di Thursday Noise. Dan mereka layak menjadi penampil pamungkas di Thursday Noise Vol 11, 6 April 2107 di Lost & Found Gastro Bar, Kemang. Sekalian saja kita rayakan rilisnya album keren ini.

  • Billy The Klits, band Ngehe dari Timur Jakarta

    Billy The Klits, band Ngehe dari Timur Jakarta

    Thursday Noise Vol 11

    Thursday Noise kali ini kita kasih sentuhan Punk Rock sedikit. Billy The Klits sepertinya tepat untuk membuka acara tanggal 6 April nanti. Pertama manyaksikan Billy The Klits ketika mereka tampil di Maitrin Cafe, Pulomas, 2013 silam. Saat itu line up mereka masih bertiga. Berikutnya gue jumpa lagi dengan rocker sruntuls ini di gigs Making Punk Pop Again, Borneo Beer House, Kemang. Formasinya sudah berempat. Bassist vokalis mereka , Daouk, cabut. Derek (gitaris) mengambil alih di gitar vokal. Gue suka stge act mereka. Main gitar ngangkang. Garuk senar kebut-kebutan. Mulut mecibir penonton. Gebukan drum intens. Punk rock tiga kunci dengan notasi vokal poppish. Membuat adrenalin merayap naik. Yeah! Hajar!!!

    Khabar dari mereka tanggal 1 April nanti album mereka rampung. Dan di Thursday Noise Vol 11, 6 April 2017, mereka akan menjual album mereka untuk pertama kalinya. Sekalian aja kita jadikan pesta peluncuran album nanti di sana.

    Lagu mereka berjudul Cabut adalah nomor yang paling gue tunggu. Versi cover version lagu ini justru sudah dirilis lebih dulu oleh Saturday Night Karaoke. Dengan lirik berbahasa Jepang. Gue juga sempat mendengar lagu mereka yang berjudul Bertahan. Awww reffnya catchy sekali. Pasti sedap nih buat desak-desakan di depan panggung. Lousy Ice Breaker juga merupakan salah satu anthem panggung pemecah suasana mereka. Rekaman album mereka diproduseri oleh Phemil, gitaris band Crossover Thrash/Punk dari Bekasi, Total Anarchy. Kalo melihat timeline sosmed mereka, tipis-tipis bisa kita dengar sound gitarnya. Kayaknya sadis nih.

    Maaf aku harus cabut niggalin kamu uwow yeah… Ahhh gue sendiri gak sabar untuk menyaksikan mereka di Thursday Noise Vol 11 nanti. Sikat!!

  • Monkey To Millionaire Berubah

    Monkey To Millionaire Berubah

    Thursday Noise Vol 11

    Setiap band pasti melewati fase perubahan dalam proses berkaryanya. Ada yang semakin abstrak. Ada yang merubah warna musiknya. Ada yang mengikuti selera orang banyak. Ada yang berusaha mendewasa. Dan macam-macam fase lainnya. Biasanya setelah melewati fase ini sebuah band akan menemukan jati diri barunya. Atau ada juga yang frustrasi dan kembali ke konsep awal.

    Nah Monkey To Millionaire sedang dalam fase me-rumit dalam karya-karyanya. Kita tak akan menemukan gaya seperti Replika atau Satu Nama di album terbaru mereka Tanpa Koma (2017). Progresi chord semakin kompleks. Whisnu juga berusaha keluar dari gaya bernyanyi lamanya. Untuk penggila album Lantai Merah dan Inertia mungkin akan berusaha mengulang-ulang album ini sampai mendapatkan selah untuk bisa menikmati dan larut didalamnya.

    Single Kekal tetap yang paling catchy di album Tanpa Koma. Refrainnya menebar racun yang abadi. Coba lo rasakan dari bait .. menuju kemana, dari sini ku tanpa arah…lalu memarau hingga terjun bebas di refrain. Aaaah menanjak haru kita di sana dan lepas. Nomor lain yang patut disimak lebih dulu adalah Tular dan Kasta Putih.Dan patut di catat semua lagu di album Tanpa Koma berbahasa Indonesia. Ciamik

    Hal yang menarik dari album Tanpa Koma adalah nomor-nomor akustiknya. Mengetuk Hati Benalu patut disimak. Gue sih males menyebut ini pendewasaan. Tapi gaya ini lain banget dari kebiasaan Monkey To Millionaire. Makin mendalam. Dan penulisan lirik Whisnu pun semakin menjejak dan membumi. Bisa dong kita menyombongkan diri dengan menyebut: Nih band alternatif Indonesia, Monkey To Millionaire!

    Tanggal 6 April 2017 adalah penampilan ketiga Monkey Millionaire di Thursday Noise. Kali ini dalam rangka merayakan dilepasnya album ketiga mereka Tanpa Koma.

    Dari Rules And Policy, Replika, Senja Membunuh, Kekal, sampai Mengetuk Hati Benalu..sepertinya gue penggemar Monkey To Millionaire.

  • Crimson Diary, Alternative Kegalauan dari Malang

    Crimson Diary, Alternative Kegalauan dari Malang

    Thursday Noise Vol 11

    Crimson Diary adalah band Alternative Rock kota Malang yang berdiri tahun 2009. Diperkuat oleh Bill Walessa (gitar, vokal), Siklum Huda (gitar), Bampho (Bass), Dyan (drum). Tahun 2014 silam mereka merilis debut album yang di beri judul Senja. Tahun 2017 mereka kembali merilis album yang diberi judul Crimson Diary. Kemasan album ini berbentuk jurnal harian berkonsep pop up. Kita diajak tenggelam dalam kegelisahan lagu-lagu mereka dan ikut menumpahkan kegelisahan kita sendiri ke dalam jurnal kosong yang telah mereka sediakan. Yang menarik dari lembaran-lembaran jurnal ini adalah, lirik ditulis tangan oleh penulisnya sendiri.

    Dari sisi musik, album kedua Crimson Diary terasa lebih berdistorsi di banding debut mereka di Senja. Suasana mengawang dengan delay-delay yang bertumpukan tetap menjadi ciri khas mereka. Gue pribadi langsung terpikat oleh lagu mereka yang berbahasa Indonesia. Angsa Hitam layak di simak. Gaya pemotongan kalimat mereka cukup khas. Terasa di setiap lagu. Paradigma juga menjadi lagu yang patut disimak. terasa haru ketika masuk bagian reafrain lagu ini.

    Gue sendiri sempat menyaksikan mereka ketika Morfem singgah ke kota Malang dalam rangkaian Jalan Darat Tour, tahun 2012 silam. Crimson Diary adalah type band yang ekspresif di panggung. Jika elo sudah menyimak album mereka, maka kemungkinan besar untuk hanyut dalam kegelisahan mereka di pentas akan terjadi. Inilah yang menjadi alasan Thursday Noise untuk mengundang mereka tampil di volume 11.